LIVE BB TUNE IN NUX RADIO
kartini | GGLink Radio Online

GGLINK RADIO ONLINE, TRULLY AND 1ST RADIO ONLINE FROM WONOGIRI -- DIPERSEMBAHKAN OLEH PT RADIO GUNUNG GANDUL LINK -- UNTUK PEMASANGAN IKLAN HUBUNGI 081393455690
BIOJANNA MELILEA
TVLINK HARIJADI

Tag Archives: kartini

Kartini Masa Kini

Semangat emansipasi wanita semakin terasa.Lihat saja kiprah para perempuan yang semakin eksis.Mereka kini telah mengisi kursi kabinet, parlemen,hingga menjadi pengusaha sukses.

Perjuangannya menuntut emansipasi yang dilakukan Raden Ajeng Kartini telah membuka cakrawala baru bagi negara ini.Betapa tidak,ketika teknologi informasi hanya berupa buku,majalah,kertas dan alat tulis,Kartini yang masih sangat muda mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan hanya melalui surat-menyurat dari tempat tinggalnya di tanah Jawa.Dengan kegelisahannya yang memilukan,dia bergulat mencoba keluar dari pikiran dan tradisi feodal di sekitarnya.

Potret ini tentu sebuah loncatan baru bagi Kartini agar masyarakat mampu menjadi kelas-kelas educated (terdidik). Tak sia-sia perjuangan sosok perempuan ini. Pemikirannya kini terus diperjuangkan para perempuan Indonesia.Lihat saja,kini para perempuan tak hanya menjadi “konco wiking”–teman di belakang.Kini kaum perempuan sudah mulai memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan.

Banyak tokoh perempuan kini yang memiliki peran besar di bidangnya masing-masing,mulai di kursi kabinet,parlemen,hingga di dunia usaha. Di kabinet,kita bisa melihat bagaimana Menteri Perdagangan Mari Elka berkiprah.Tak hanya mengurusi bidang perdagangan,perempuan lulusan bachelor dan master of economics dari the Australian National University,serta peraih gelar PhD dalam bidang perdagangan internasional, keuangan,dan ekonomi moneter dari Universitas California ini pun sangat peduli pada kaum perempuan.

Perempuan perkasa lainnya adalah Sri Mulyani.Dia adalah perempuan sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat direktur pelaksana Bank Dunia.Jabatan ini diembannya mulai 1 Juni 2010.Sebelumnya,dia menjabat menteri keuangan dalam Kabinet Indonesia Bersatu.Begitu berkantor di Kantor Bank Dunia,dia praktis meninggalkan jabatannya sebagai menteri keuangan. Fenomena semakin besarnya kiprah perempuan juga terlihat di PT Pertamina (Persero).Untuk pertama kalinya, Pertamina dipimpin seorang perempuan,Ir Galaila Karen Agustiawan.

Perempuan kelahiran Bandung,19 Oktober 1958,ini adalah lulusan Sarjana Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1978. Pemikiran cemerlang para perempuan juga sudah mengisi gedung parlemen.Rieke Dyah Pitaloka,misalnya.Dia adalah anggota DPR periode 2009-2014 dari PDIP untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat II.Rieke Dyah Pitaloka juga mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan Pitaloka yang bergerak di bidang sastra dan sosial kemasyarakatan.

Perempuan lain yang juga vokal bersuara di parlemen,antara lain Nova Riyanti Yusuf,Nurul Arifin,Vena Melinda,Angelina Sondakh,dan masih banyak perempuan lainnya. Para perempuan Indonesia kini juga semakin banyak yang sukses dalam berbisnis.Siti Hartati Murdaya,misalnya.

Hartati dikenal sebagai sosok pengusaha pekerja keras dan tidak pernah gentar untuk meraih kesempatan.Sosok lain yang juga sukses di dunia bisnis adalah Martha Tilaar. Perempuan asal Gombong ini pun sukses membangun imperium industri jamu dan kosmetika berkelas dunia.?

Seputar Indonesia

Mengenali Pemikiran Kartini

Tanggal 21 April, yang merupakan hari kelahiran R.A. Kartini, tiap tahun diperingati sebagai Hari Kartini. Di sekolah-sekolah, di kantor-kantor, bahkan di tingkat RT, sering diadakan peringatan Hari Kartini. Peringatan-peringatan tersebut biasanya berupa lomba-lomba, misalnya lomba memasak, lomba merangkai bunga, lomba merias, dan sebagainya. Inikah yang dicita-citakan Kartini?

Meski kita hafal di luar kepala bahwa tanggal 21 April adalah hari Kartini, namun tidak banyak yang tahu siapa dan bagaimana pemikiran Kartini. Yang banyak diketahui adalah bahwa R.A. Kartini merupakan pejuang emansipasi wanita. Bagaimana pemikiran-pemikirannya tentang kesetaraan gender? Apa isi surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya yang dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang? Tidak banyak yang tahu.

Tulisan ini diharapkan dapat sedikit mengenalkan sosok Kartini dan pemikiran-pemikiran beliau.

Kartini telah banyak membawa perubahan bagi kemajuan pendidikan kaum wanita di Indonesia. Kartini mengajarkan bahwa seorang wanita harus mempunyai pemikiran jauh ke depan.  Kalau dulu beliau dapat memiliki sahabat pena dari berbagai kalangan yang menambah ilmu dan wawasannya, tentulah sekarang dengan kemajuan yang ada, haruskah disia-siakan?

Dalam kumpulan suratnya : “Door Duisternis Tot Licht”, yang terlanjur diartikan sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang” tetapi menurut  Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) – mengartikan kalimat “Door Duisternis Tot Licht” sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya”, tersirat siapa Kartini sebenarnya.

Menurut Kartini, setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan sama. Kartini paham benar bahwa saat itu, terutama di Jawa, keningratan sesorang diukur dengan darah. Semakin biru darah seseorang maka akan semakin ningrat kedudukannya.

Seperti  dituliskannya kepada sahabat penanya:

Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah.  Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar.

Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek- pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut “kuda liar”. [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]

Sekarang ini kenigratan itu masih berlaku, bahkan ada keningratan yang lain,  yaitu ekonomi. Perekonomian membuat jurang pemisah di antara manusia.

Peduli apa aku dengan segala tata cara itu … Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu … Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas- batas mana cara liberal itu boleh dijalankan. [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]

Kartini juga mengajarkan untuk mencintai buku

Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga- tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memilki buku selain buku pelajaran sekolah. [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902]

Kartini mengajarkan untuk menuntut ilmu tetapi jangan lupa mengamalkan ilmu tersebut.

Pergilah. Laksanakan  cita-citamu. Kerjalah  untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham yang  palsu tentang  mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

Kartini menginginkan pendidikan untuk perempuan bukanlah untuk menyaingi laki-laki ataupun menyalahi kodratnya. Namun, perempuan sebagai calon ibu harus berpendidikan agar kelak dapat mendidik anak-anaknya. Di tangan ibulah anak-anak memperoleh pendidikan kali pertama.

Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan  itu  menjadi  saingan  laki-laki  dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami  yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum  wanita,  agar  wanita  lebih  cakap melakukan kewajibannya, kewajiban  yang diserahkan  alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Mudah-mudahan, peringatan  Kartini  tidaklah sebatas mengenang lahirnya seorang perempuan bernama Kartini, namun dapat memberikan pemahaman yang utuh terhadap pemikiran-pemikiran sosok Kartini sehingga cita-citanya dapat benar-benar terwujud.

sumber: WRM Indonesia

Suyanti, Kartini dari Wonogiri

Saat itu hari masih siang di terminal Wonogiri, Jawa Tengah. Persiapan untuk melakukan perjalanan jauh sudah dilakukan. Mulai dari pemeriksaan penumpang hingga kelengkapan surat jalan. Kali ini, giliran Suyanti yang akan mengemudikan bus malam jurusan Wonogiri – Jakarta.

Sesungguhnya, tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiran Suyanti untuk berprofesi sebagai supir bis malam. Namun, setelah berpisah dengan suami pertamanya, wanita berumur 43 tahun ini, memberanikan diri, menjadikan bus malam sebagai sarana penopang hidup ia sekeluarga. Awalnya, Yanti tidak yakin akan keputusannya tersebut. Namun karena desakan kondisi yang ada, memaksa dirinya menjalani hidup di jalanan.

Dilihat dari upah yang diterima, sesungguhnya tidaklah sebanding dengan risiko yang harus dihadapi. Yanti menerima lima puluh ribu rupiah, setiap pulang-pergi perjalanan Jakarta-Wonogiri, plus bonus jika bus penuh, seharga tiket dua penumpang, yang dibagi bertiga dengan supir cadangan dan kernet. Namun, Yanti bersyukur karena dengan begitu dirinya masih mampu membiayai sekolah kedua anak angkatnya, apalagi setelah suami keduanya meninggal dunia.

Praktis, setiap harinya hampir 24 jam penuh, hidup Yanti dihabiskan di jalanan. Setiap trayeknya, Yanti bertugas mengemudikan bus dua kali, dari Wonogiri ke Geringsing, Batang, Jawa Tengah serta dari Cirebon ke Jakarta. Sekali tempuh, awak bus serta penumpang beristirahat 2 kali di rumah makan yang telah ditentukan.

Dari Gringsing, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Jakarta. Setelah memasuki kawasan Cirebon, sambil menunggu giliran membawa bus, Yanti lebih suka memanfaatkan waktu luangnya beristirahat.

Sebagai supir, Yanti dikenal rekan-rekan kerjanya konsekuen dalam menjalankan tugas. Hal ini menjadikan sopir-sopir lain, tidak segan menerima Yanti sebagai partner selama di jalan. Bahkan kadang-kadang mereka merasa diuntungkan, karena saat Yanti berada di belakang kemudi, para pemakai jalan lainnya akan memberikan toleransi yang tinggi, jika bus mereka melintas di jalanan.

Tidak mudah bagi Yanti, menjalani hidup sebagai ibu sekaligus bapak yang harus mencari nafkah. Apalagi profesinya ini, banyak didominasi kaum adam. Tidak sedikit yang meragukan kemampuan Yanti sebagai pengemudi bus malam. Beban semakin bertambah, mengingat pekerjaannya menyangkut keselamatan orang banyak. Namun tantangan tersebut, justru dijawab Yanti dengan memberikan pelayanan terbaik sebagai buktinya.

Perjalanan Wonogiri – Jakarta – Wonogiri, biasanya ditempuh selama 15 jam. Namun jika kondisi jalanan lancar, Suyanti bisa kembali ke Wonogiri jam 3 pagi, lebih awal 2 jam. Di sela-sela waktu yang ada inilah, Yanti biasanya memanfaatkan waktu untuk kembali ke rumahnya, di kawasan Giritontro, Wonogiri. Menjadi sopir bus malam, tidak membuat Yanti melupakan perannya sebagai ibu rumah tangga.

Setelah penat menghabiskan waktu di jalanan, Yanti lebih memilih menjalani waktu luang untuk menemui anak-anaknya yang sehari-hari diasuh ibunda Suyanti. Bercanda dengan kedua anak angkatnya, Panji (10 tahun) serta Heri yang baru berumur 3 tahun, bagi Suyanti seperti memberi energi baru. Meskipun hanya mempunyai waktu enam jam setiap dua hari, Yanti terlihat dekat dengan kedua putranya.

Tidak berbeda dengan perempuan pada umumnya, Yanti juga menjalankan tugas rutin layaknya ibu rumah tangga. Mulai dari menyiapkan sarapan bagi ibu dan kedua putranya, sampai mencari kayu bakar di hutan belakang rumahnya. Yanti juga selalu berusaha untuk tetap menjaga kehidupan bermasyarakat, meskipun sangat sulit dilakukan karena terbatasnya waktu yang ia miliki. Setidaknya, Yanti dikenal warga setempat .

Tugas sebagai ibu rumah tangga selesai, kini kembali peran sebagai pencari nafkah harus dijalani. Walau kelelahan berperan ganda kadang dirasakannya, namun Yanti tidak mau menyerah. tidak banyak sosok Yanti di negeri ini.

Di saat terdesak, terhimpit oleh kebutuhan sehari-hari, Yanti masih bisa berpikir sehat dalam menjalani hidup. Yanti tidak hanya pasrah akan keadaan serta menjadikan kewanitaannya sebagai alasan. Satu lagi bukti, perempuan bisa menjadi ibu sekaligus bapak dalam keluarga, meskipun harus menjalani hidup sebagai sopir bis malam, yang mayoritas didominasi kaum pria

indosiar.com

  • LOWONGAN
    ANEKA
    HERBAFARM
  • Pakari

    Alumni-UT

    Pakari

    CRYSTAL X FOR WOMEN

  • PASANG IKLAN DI SINI
LIVE BB TUNE IN NUX RADIO
Powered by WordPress | Designed by: diet | Thanks to lasik, online colleges and seo