Ekoph GGLink - Esroq Heru Prasetyo, M.Hum, guru bahasa Indonesia SMKN 1 Mojosongo, Boyolali, berhasil terpilih menjadi instruktur pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing. Lelaki kelahiran Wonogiri ini akan menjadi tenaga pengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing di New Delhi, India.
Bagaimana kisah perjalanan hidupya? Simak autobiografi yang dituliskan Pak Esroq sendiri untuk Sobat GGLink.
Masa-masa Menjelang Aku Melihat Dunia Pertama Kali
Rabbiku, terangi ruh seorang bapak yang tegar dalam kesahajaannya, Purnawiran AL, Mardino, sang bapakku, …yang senantiasa membisiki jiwaku ”selalu jaga praja”, damaikan beliau di barzahnya, dengan ibuku, Siti Djamiatun, yang pori-porinya tak pernah kering, senantiasa berkarya sebisanya, buat sukses keempat anaknya.
Aku, si sulung, lahir di RSU Wonogiri, …sementara sang Bapak (yang masih kopral AL) masih tugas di Surabaya. Setelah melewati suasana seram sepanjang jalan Surabaya-Wonogiri, karena pergolakan PKI kala itu,
akhirnya, Bapak (konon) bangga dengan sulungnya yang lahir dengan selamat.
Aku (dilatih, atau dipaksa, atau dikondisikan) mandiri sejak kecil lewat pengasuhan kakek-nenek di wonogiri, sementara Bapak tugas di Angkatan Laut (ibuku dengan setia mendampingi beliau)
Masa Sekolah TK
Oleh kakekku, alm Ima Syahudi, aku selalu diantar ke sekolah TK (saat itu lokasinya di belakang kantor kecamatan kota) bersamaan dengan putra ragil kakekku, Edi Hari Pujari (usianya setahun lebih muda dari aku); tapi maaf lupa nama TKnya.
Masa SD
SD ku adalah Giripurwo 1, yang letaknya sebelah utara kampungku, Gerdu. Enam tahun aku belajar dengan segala kekuranganku. Bersekolah dengan berjalan apa adanya, tanpa ada target prestasi apa pun. Tamat SD tahun 1978, dengan nilai biasa-biasa saja.
Masa SMP
Oleh Bulik, aku didaftarkan di SMPN 1 Wonogiri, jelas tidak diterima, kerana memang aku merasa tidak punya kemampuan lebih.
Beruntung aku diterima di SMP 4 Wonogiri, kala itu masa transisi dari ST 2, berlokasi di sebelah timur DPRD.
Tamat SMP tahun 1981. Di SMP, aku mulai mengenal pentingnya belajar.
Masa SMA
Bekal kemampuanku di SMP, aku bisa bersaing tes di SMA 2 dan SMEA Negeri. Aku pilih lanjut di SMA 2 Wonogiri. Tiga tahun di SMA 2 makin memacuku penting belajar dengan lebih gigih. IPA2 jurusanku, dihuni oleh siswa-siswa jempol antara lain Taufik Rahman, Muh.Muyassir, Agus Murdhiana, Mimin Umiati, dan lainnya.
Aku tetap menjaga belajarku, (juga puasa Senin Kamisku) di tengah ketatnya bersaing dengan mereka yang benar-benar jempol.
Sebuah keanehan mungkin, 1984 lulus ternyata aku bisa rangking I di kelasku, Subhanalloh …
Pasca SMA aku ikut Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). karena basic-ku jurusan IPA, maka aku ambil D3 matematika; pilihan kedua D3 Bahasa Indonesia, …eee aku “terdampar” di Bahasa Indonesia, sebuah mapel yang pernah aku tidak sukai, karena kesannya cuma hafalan.
Masa Kuliah D3 UNS
1984-1987 aku berkesempatan “kuliah” di D3 Bahasa Indonesia UNS, Solo. Blas, aku sebatas masuk ke kampus dengan setengah hati, karena bahasa identik dengan hafalan. Aku mulai berkenalan fonologi, morfologi, sintaksis, sastra, dan lika-liku ilmu kebahasaan dan kesastraan lainnya. Beruntung di kuliahku yang setengah hati itu, aku masih peringkat 5. Aku merasa kuat dalam bernalar, tapi tetap lemah dalam berbahasa verbal.
1987-1988 adalah masa free-ku. aku benar-benar menikmati menganggur. Pada masa itu, aku sama sekali tidak menyiapkan diri ke dunia guru. Aku malah enjoy benar dalam menikmati alam, terutama naik puncak gunung. Dan, Puncak Lawu dengan 0 derajat celsiusnya berhasil aku daki.
Garis hidupku mulai “terbentuk” semenjak turunnya SK CPNS tahun 1988, lewat kertas dorslag tipis dengan amplop kertas ketikan bekas, panggilan menghadiri penyerahan SK CPNS di Kanwil Depdikbud Prov jateng, di Jalan Pemuda, kala itu bulan Juni 1988.
Masa Menapak di Dunia Kerja
Sejak 1988 sampai 2003, aku menjadi guru di SMP 1 Boyolali.
momen-momen berharga selama di SMP 1 Boyolali:
- 1996 lulus S1 Bahasa Indonesia
- 1997 tim penilai PAK kabupaten boyolali
- 1998 guru teladan se kabupaten boyolali
- 1998 berkesempatan masuk S2 Linguistik UNS
- 1999 sebagai instruktur PPPG Bahasa Indonesia
- 2000 tim peniliti
Action Research (PTK) bersubsidi 6 juta rupiah dari Kanwil Prov jateng
- 2002 finalis lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran tingkat nasional, berkesempatan memasuki istana presiden (Megawati)
- 2002 lulus S2 (magister humaniora) yang kala itu bagi guru di Boyolali masih dapat dihitung dengan jari.
- 2003 dipercaya, diamanahi tugas KS di SMP 2 Selo, sekolah pinggiran di lereng Merapi bagian barat-utara.
Amanah sebagai Kepala Sekolah
Sebuah amanah yang benar-benar misteri-Nya. Di tengah usiaku 38 (setelah 15 tahun mengajar di SMP 1 Boyolali) diamanahi tugas KS di sebuah SMP pinggiran, di lereng Merapi (padahal, di sekolah, jabatan tertinggiku baru wali kelas; belum pernah wakil KS karena di sekolahku guru-guru senior masih banyak).
Misiku di sekolah pinggiran adalah membentuk pola pikir masyarakat akan pentingnya bersekolah, tanpa dibebani biaya yang tinggi. Maklum saja, masyarakat sekitar SMP 2 Selo belum memiliki persepsi yang sama akan pentingnya bersekolah. Apa yang bisa diperbuat oleh sekolah, bila mereka berprinsip “lebih baik anaknya tidak bersekolah, jika biaya sekolah menurutnya mahal”. Bersyukur mulai dari hanya empat kelas yang dimiliki, pada tahun ke-4 telah berkembang menjadi 8 kelas. Bersama komite, benar-benar misi yang utama mengajak masyarakat mau menyekolahkan anak-anaknya.
Tahun 2004, untuk kedua kalinya terpanggil sebagai finalis dalam lomba keberhasilan guru tingkat nasional (sekalipun KS, tetapi karena memiliki jam mengajar jg -jauh sbl sertifikasi-, maka berkesempatan ikut lomba juga). Kali ini dengan Presiden SBY.
Tahun 2006 mendapat tugas KS di SMP 1 Selo, setingkat lebih maju dibandingkan dengan sekolahku sebelumnya. Berbekal 12 kelas yang ada, pada tahun ke-4 aku menjalankan tugas, SMP 1 Selo berkembang menjadi 16 kelas. Asumsinya sederhana saja, semakin banyak siswa yang tertampung di sekolah, keberhasilan membentuk pola pikir maju masyakat Selo semakin terbuka lebar.
Tahun 2010 Tugas Baru di Lingkungan SMK
Setelah 8 tahun bertugas sebagai Kepala Sekolah di jenjang SMP, mendapat amanah sebagai guru di SMK 1 Mojosongo Boyolali. Satu tahun setelah menikmati tugas guru SMK, sebagai dunia baru karena 23 tahun sebelumnya mengabdi di jenjang SMP, ada peluang seleksi guru bagi penutur asing di KBRI India, di New Delhi. April mulai mengirimkan berkas awal proses seleksi. Dilanjutkan tes tertulis dan wawancara. Akhirnya terpilih menjadi satu-satunya guru se-Indonesia yang terpanggil menjadi instruktur pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing.
Tahun 2011, Menjemput Tugas Guru di India
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
tawakkalku ke hadiratMU, ya, Rabb ….
Esroq Heru Prasetyo
jempol buat esroq, ternyata trah iman sahudi emang betul2 membuat bangga, perjuangan orang tua kita tidak sia-sia go go go wonogiri yeeeeesssssss
sukses pak esroq semoga perjuangan terus dilanjutkan walau di negara orang
Salut untuk totalitas pak Esroq dalam menjalankan tugas… saya sebagai warga wonogiri terinspirasi dan mendukung penuh dan mengapresiasi pencapaian beliau…
Mari kita maju di bidang masing2…
Generasi muda itulah pentingnya “laku prihatin” belajar, berdo’a dan tak lupa puasa senin kamis, insyaallah keinginan dan cita2 kita diridho’i Allah. Mari jangan kalah sama mas Esroq.. kita menjadi “mas Esroq” selanjutnya di Wonogiri tercunta ini…..
ikut bangga deh.. semoga masih banyak yang lain
saya sebagai mantan anak didik pak Esroq di SMPN1 Selo sangat berbangga hati karena pernah mengenal bapak, semoga saya bisa menjadi seseorang yang luar biasa seperti bapak. salam saya kepada bapak. semoga sukses mengajar di India, semoga sehat selalu dan senantiasa berada dalam lindungan Allah S.W.T.. amin… jangan lupakan kami , pak.
teruskan harumkan nama bangsa, be the best……salam sukses