LIVE BB TUNE IN NUX RADIO
Profil | GGLink Radio Online

GGLINK RADIO ONLINE, TRULLY AND 1ST RADIO ONLINE FROM WONOGIRI -- DIPERSEMBAHKAN OLEH PT RADIO GUNUNG GANDUL LINK -- UNTUK PEMASANGAN IKLAN HUBUNGI 081393455690
BIOJANNA MELILEA
TVLINK HARIJADI

Category Archives: Profil

“Are You Sleeping, Brother John ?” Dalam Catatan Kenangan Seorang Jenderal Asli Wonogiri

Gunadi 1_201

Oleh : Gunadi MDA
Laksamana Madya (Purn) TNI-AL

Klas 1b/2d/3b
SMP Negeri 1 Wonogiri 1967-1969

Sekolah kebanggaan. Setelah resmi pensiun dari Irjen Kementerian Pertahanan pada bulan Maret 2012 , agenda penting pertama di awal sebagai pengangguran adalah melaksanakan safari darat.

Suyanti, Pergulatan di Balik Kemudi Bus Malam

Suyanti

 

VIVAnews - Hari masih subuh saat bus Gajah Mungkur dari Jakarta tiba di Terminal Ngadirojo, Wonogiri, Jawa Tengah. Wajah-wajah kuyu segera bermunculan– menggambarkan lelah setelah menempuh perjalanan 630 kilometer selama 15 jam. Termasuk pada raut wajah wanita setengah baya yang muncul dari balik pintu kemudi: Suyanti.

PUTRA WONOGIRI MASUK 12 BESAR DALAM ACARA PEMILIHAN BAKAT “ X FACTOR INDONESIA”

Bagus

Dalam salah satu acara pencarian bakat di salah satu televisi swasta ternama ternyata ada salah satu putra wonogiri yang lolos dalam 12 besar. Dia adalah BAGUS CAHYA ADI kebetulan dia juga putra salah satu pemilik rumah makan sepecialis ayam goreng kremes di daerah wonogiri kota tepatnya di kelurahan Wonokarto,Wonogiri.

Dian Mita Kurniasari, Penyanyi Muda dengan Segudang Prestasi

Meski baru berusia 18 tahun pada 18 Agustus 2012 mendatang, namun gadis kelahiran Selogiri, Wonogiri ini telah menorehkan segudang prestasi di bidang tarik suara. Dian Mita Kurniasari, demikian nama lengkapnya, namun lebih sering dipanggil Mita.

Gadis yang merupakan putri dari pasangan Bp Wiryanto dan Ibu Sri Sarwiji, warga Desa Sendangijo, Selogiri, Wonogiri ini saat ini sedang menuntut ilmu di kelas 2 SMA Negeri I Sukoharjo.

Prestasinya di bidang tarik suara telah ia peroleh sejak ia berusia 12 tahun, yaitu menjadi Juara I Pop Mandarin di Kepunton, Solo. Hingga saat ini lebih dari tiga puluh penghargaan yang telah ia dapatkan. Terakhir, ia menjadi Juara I Lomba Menyanyi Keroncong Tingkat SMA/sederajat se-Jawa, Bali, Sumatera di Universitas Trisakti Jakarta pada bulan Mei 2012.

Berikut sebagian penghargaan yang pernah diterimanya:

  • Juara I Pop Mandarin di Kepunton Solo, 2006
  • Juara I Pop Singer Porseni  SD Kec. Nguter, 2006
  • Juara I Alfa Kids Song di Solo, 2006
  • Juara I Children Performing Arts di BTC Solo, 2006
  • Juara I Sukoharjo Idol 2007
  • Juara I Solo Singer Sophie Martin 2007
  • Juara I Peksiwa SMP Kab. Sukoharjo 2008
  • Juara I Solo Vokal Kab. Sukoharjo 2008
  • Menyanyi dalam acara menjamu Presiden SBY di Rumah Dinas Walikota Surakarta, 2009
  • Menyanyi keroncong bersawa Gesang dan Waljinah dalam rangka Hari Anak Indonesia 2010
  • Juara I Lomba vokal keroncong Jateng dan DIY 2010
  • Juara I Junior Putri Lomba Menyanyi Keroncong PD PP POLRI Jateng 2010
  • Juara I Lomba Keroncong Mandarin di Solo 2012
  • Juara II Sang Idola Campursari TATV Solo 2012
  • Juara I Lomba Menyanyi Keroncong tingkat SMA/sederajat se-Jawa, Bali, Sumatera di Universitas Trisakti Jakarta, 2012

Selain prestasi tersebut, masih banyak lagi prestasi sebagai juara II hingga juara harapan di berbagai perlombaan olah vokal.

Bagi sobat GGLink yang ingin menyaksikan penampilan Mita, silakan simak acara Gebyar Keroncong TVRI yang disiarkan nanti malam, 21 Juni 2012 pukul 22.00 WIB di TVRI Nasional.

ekoph GGLink

Mengenal Lebih Dekat Sosok Jokowi

Jokowi adalah tokoh pemimpin terpuji Walikota Solo dan berperan mempromosikan Mobil ESEMKA.

Ir. Joko Widodo (Jokowi) adalah walikota Kota Surakarta (Solo) untuk dua kali masa bhakti 2005-2015.

Wakil walikotanya adalah F.X. Hadi Rudyatmo.

Jokowi lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961.

Agama Jokowi adalah Islam.

 

Biografi Jokowi (Joko Widodo)

Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan diri sebagai walikota Solo, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat ia terpilih. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto “Solo: The Spirit of Java“. Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.

Berkat prestasi tersebut, Jokowi terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″ oleh Majalah Tempo.

Asal Nama Julukan Jokowi

“Jokowi itu pemberian nama dari buyer saya dari Prancis,” begitu kata Wali Kota Solo, Joko Widodo, saat ditanya dari mana muncul nama Jokowi. Kata dia, begitu banyak nama dengan nama depan Joko yang jadi eksportir mebel kayu. Pembeli dari luar bingung untuk membedakan, Joko yang ini apa Joko yang itu. Makanya, dia terus diberi nama khusus, ‘Jokowi’. Panggilan itu kemudian melekat sampai sekarang. Di kartu nama yang dia berikan tertulis, Jokowi, Wali Kota Solo. Belakangan dia mengecek, di Solo yang namanya persis Joko Widodo ada 16 orang.

Saat ini, Jokowi menjabat untuk periode kedua. Kemenangan mutlak diperoleh saat pemilihan wali kota tahun lalu. Nama Jokowi kini tidak hanya populer, tapi kepribadiannya juga disukai masyarakat. Setidaknya, ketika pergi ke pasar-pasar, para pedagang beramai-ramai memanggilnya, atau paling tidak berbisik pada orang sebelahnya, “Eh..itu Pak Joko.”

Bagaimana ceritanya sehingga dia bisa dicintai masyarakat Solo? Kebijakan apa saja yang telah membuat rakyatnya senang? Mengapa pula dia harus menginjak pegawainya? Berikut wawancara wartawan Republika, Ditto Pappilanda, dengan Jokowi dalam kebersamaannya sepanjang setengah hari di seputaran Solo.

Sikap apa yang Anda bawa dalam menjalankan karier sebagai birokrat?
Secara prinsip, saya hanya bekerja untuk rakyat. Hanya itu, simpel. Saya enggak berpikir macam-macam, wong enggak bisa apa-apa. Mau dinilai tidak baik, silakan, mau dinilai baik, ya silakan. Saya kan tugasnya hanya bekerja. Enggak ada kemauan macam-macam. Enggak punya target apa-apa. Bekerja. Begitu saja.

Bener, saya tidak muluk-muluk dan sebenarnya yang kita jalankan pun semua orang bisa ngerjain. Hanya, mau enggak. Punya niat enggak. Itu saja. Enggak usah tinggi-tinggi. Sederhana sekali.

Contoh, lima tahun yang lalu, pelayanan KTP kita di kecamatan semrawut. KTP bisa dua minggu, bisa tiga minggu selesai. Tidak ada waktu yang jelas. Bergantung pada yang meminta, seminggu bisa, dua minggu bisa. Tapi, dengan memperbaiki sistem, apa pun akan bisa berubah. Menyiapkan sistem, kemudian melaksanakan sistem itu, dan kalau ada yang enggak mau melaksanakan sistem, ya, saya injak.

Awalnya reaksi internal bagaimana?
Ya biasa, resistensi setahun di depan, tapi setelah itu, ya, biasa saja. Semuanya kalau sudah biasa, ya semuanya senang. Ya, kita mengerti itu masalah kue, ternyata ya juga bisa dilakukan.

Untuk mengubah sistem proses KTP itu, tiga lurah saya copot, satu camat saya copot. Saat itu, ketika rapat diikuti 51 lurah, ada tiga lurah yang kelihatan tidak niat. Enggak mungkin satu jam, pak, paling tiga hari, kata mereka. Besoknya lurah itu tidak menjabat. Kalau saya, gitu saja. Rapat lima camat lagi, ada satu camat, sulit pak, karena harus entri data. Wah ini sama, lah. Ya, sudah.

Nyatanya, setelah mereka hilang, sistemnya bisa jalan. Seluruh kecamatan sekarang sudah seperti bank. Tidak ada lagi sekat antara masyarakat dan pegawai, terbuka semua. Satu jam juga sudah jadi. Rupiah yang harus dibayar sesuai perda, Rp 5.000.

Anda juga punya pengalaman menarik dalam penanganan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kemudian banyak menjadi rujukan?
Iya. Sekarang banyak daerah-daerah ke sini, mau mengubah mindset. Oh ternyata penanganan (PKL) bisa tanpa berantem. Memang tidak mudah. Pengalaman kami waktu itu adalah memindahkan PKL di Kecamatan Banjarsari yang sudah dijadikan tempat jualan bahkan juga tempat tinggal selama lebih dari 20 tahun. Kawasan itu sebetulnya kawasan elite, tapi karena menjadi tempat dagang sekaligus tempat tinggal, yang terlihat adalah kekumuhan.

Lima tahun yang lalu, mereka saya undang makan di sini (ruang rapat rumah dinas wali kota). Saya ajak makan siang, saya ajak makan malam. Saya ajak bicara. Sampai 54 kali, saya ajak makan siang, makan malam, seperti ini. Tujuh bulan seperti ini. Akhirnya, mereka mau pindah. Enggak usah di-gebukin.

Mengapa butuh tujuh bulan, mengapa tidak di tiga bulan pertama?
Kita melihat-melihat angin, lah. Kalau Anda lihat, pertama kali mereka saya ajak ke sini, mereka semuanya langsung pasang spanduk. Pokoknya kalau dipindah, akan berjuang sampai titik darah penghabisan, nyiapin bambu runcing. Bahkan, ada yang mengancam membakar balai kota.

Situasi panas itu sampai pertemuan ke berapa?
Masih sampai pertemuan ke-30. Pertemuan 30-50 baru kita berbicara. Mereka butuh apa, mereka ingin apa, mereka khawatir mengenai apa. Dulu, mereka minta sembilan trayek angkot untuk menuju wilayah baru. Kita beri tiga angkutan umum. Jalannya yang sempit, kita perlebar.

Yang sulit itu, mereka meminta jaminan omzet di tempat yang baru sama seperti di tempat yang lama. Wah, bagaimana wali kota disuruh menjamin seperti itu. Jawaban saya, rezeki yang atur di atas, tapi nanti selama empat bulan akan saya iklankan di televisi lokal, di koran lokal, saya pasang spanduk di seluruh penjuru kota. Akhirnya, mereka mau pindah.

Pindahnya mereka saya siapkan 45 truk, saya tunggui dua hari, mereka pindah sendiri-sendiri. Pindahnya mereka dari tempat lama ke tempat baru saya kirab dengan prajurit keraton. Ini yang enggak ada di dunia mana pun. Mereka bawa tumpeng satu per satu sebagai simbol kemakmuran. Artinya, pindahnya senang. Tempat yang lama sudah jadi ruang terbuka hijau kembali.

Omzetnya di tempat yang baru?
Bisa empat kali. Bisa tanya ke sana, jangan tanya saya. Tapi, ya kira-kira ada yang sepuluh kali, ada yang empat kali. Rata-rata empat kali. Ada yang sebulan Rp 300 juta. Itu sudah bukan PKL lagi, geleng-geleng saya.

Bagaimana dengan PKL yang lain?
Setelah yang eks-PKL Banjarsari pindah, tidak sulit meyakinkan yang lain. Cukup pertemuan tiga sampai tujuh kali pertemuan selesai. Sampai saat ini, kita sudah pindahkan 23 titik PKL, tidak ada masalah.

Lha yang repot sekarang ini malah pedagang PKL itu minta direlokasi. Kita yang nggak punya duit. Sampai sekarang ini, masih 38 persen PKL yang belum direlokasi. Jadi, kalau masih melihat PKL di jalan atau trotoar, itu bagian dari 38 persen tadi.

Tampaknya, pemberdayaan pasar menjadi perhatian Anda?
Oiya. Kita sudah merenovasi 34 pasar dan membangun pasar yang baru di tujuh lokasi. Jika dikelola dengan baik, pasar ini mendatangkan pendapatan daerah yang besar.

Dulu, ketika saya masuk, pendapatan dari pasar hanya Rp 7,8 miliar, sekarang Rp 19,2 miliar. Hotel hanya Rp 10 miliar, restoran Rp 5 miliar, parkir Rp 1,8 miliar, advertising Rp 4 miliar. Hasil Rp 19,2 miliar itu hanya dari retribusi harian Rp 2.600. Pedagangnya banyak sekali, kok. Ini yang harus dilihat. Asal manajemennya bagus, enggak rugi kita bangun-bangun pasar. Masyarakat-pedagang terlayani, kita dapat income seperti itu.

Sementara kalau mal, enggak tahu saya, paling bayar IMB saja, kita mau tarik apa? Makanya, mal juga kita batasi. Begitu juga hypermarket kita batasi. Bahkan, minimarket juga saya stop izinnya. Rencananya dulu akan ada 60-80 yang buka, tapi tidak saya izinkan. Sekarang hanya ada belasan.

Tapi, sepertinya Pasar Klewer belum tersentuh ya, kondisinya masih kurang nyaman?
Klewer itu, waduh. Duitnya gede sekali. Kemarin, dihitung investor, Rp 400 miliar. Duit dari mana? Anggaran berapa puluh tahun, kita mau cari jurus apa belum ketemu. Anggaran belanja Solo Rp 780 miliar, tahun ini Rp 1,26 triliun. Tidak mampu kita. Pedagang di Klewer lebih banyak, 3.000-an pedagang, pasarnya juga besar sekali. Di situ, yang Solo banyak, Sukoharjo banyak, Sragen banyak, Jepara ada, Pekalongan ada, Tegal ada. Batik dari mana-mana. Tapi, saya yakin ada jurusnya, hanya belum ketemu aja.

Soal pendidikan, di beberapa daerah sudah banyak dilakukan pendidikan gratis, apakah di Solo juga begitu?
Kita beda. Di sini, kita menerbitkan kartu untuk siswa, ada platinum, gold, dan silver. Mereka yang paling miskin itu memperoleh kartu platinum. Mereka ini gratis semuanya, mulai dari uang pangkal sampai kebutuhan sekolah dan juga biaya operasional. Kemudian, yang gold itu mendapat fasilitas, tapi tak sebanyak platinum. Begitu juga yang silver, hanya dibayari pemkot untuk kebutuhan tertentu.

Itu juga yang diberlakukan untuk kesehatan?
Iya, ada kartu seperti itu, ada gold dan silver. Gold ini untuk mereka yang masuk golongan sangat miskin. Semua gratis, perawatan rawat inap, bahkan cuci darah pun untuk yang gold ini gratis.

Tampaknya, sekarang masyarakat sudah percaya pada Anda, padahal di awal terpilih, banyak yang sangsi?
Yah, satu tahun, lah. Namanya belum dikenal, saya kan bukan potongan wali kota, kurus, jelek. Saya juga enggak pernah muncul di Solo, apalagi bisnis saya 100 persen ekspor. Ada yang sangsi, ya biar saja, sampai sekarang enggak apa-apa. Mau sangsi, mau menilai jelek, terserah orang.

Dulu, apa niat awalnya jadi wali kota?
Enggak ada niat, kecelakaan. Ndak tahu itu. Dulu, pilkada pertama, kita dapat suara 37 persen, menang tipis. Wong saya bukan orang terkenal, kok. Yang lain terkenal semuanya kan, saya enggak. Tapi, kelihatannya masyarakat sudah malas dengan orang terkenal. Mau coba yang enggak terkenal. Coba-coba, jadi saya bilang kecelakaan tadi itu memang betul.

Hal apa yang paling mengesankan selama Anda menjadi wali kota?
Paling mengesankan? Paling mengesankan itu, kalau dulu, kan, wali kota mesti meresmikan hal yang gede-gede. Meresmikan mal terbesar besar misalnya. Tapi, sekarang, gapura, pos ronda, semuanya saya yang buka, kok. Pos ronda minta dibuka wali kota, gapura dibuka wali kota, ya gimana rakyat yang minta, buka aja. Ya, kadang-kadang lucu juga. Tapi kita nikmati.

Apa kesulitan yang paling pertama Anda temui saat menjabat sebagai wali kota?
Masalah aturan. Betul. Kita, kalau di usaha, mencari yang se-simpel mungkin, seefisien mungkin. Tapi, kita di pemerintahan enggak bisa, ada tahapan aturan. Meskipun anggaran ada, aturannya enggak terpenuhi, enggak bisa jalani. Harusnya, bisa kita kerjain dua minggu, harus menunggu dua tahun. Banyak aturan-aturan yang justru membelenggu kita sendiri, terlalu prosedural. Kita ini jadi negara prosedur.

Apa pertimbangannya saat Anda mencalonkan untuk kali kedua?
Sebetulnya, saya enggak mau. Mau balik lagi ke habitat tukang kayu. Saat itu, setiap hari datang berbondong-bondong berbagai kelompok yang mendorong saya maju lagi. Mereka katakan, ini suara rakyat. Saya berpikir, ini benar ndak, apa hanya rekayasa politik. Dua minggu saya cuti, pusing saya mikir itu. Saya pulang, okelah saya survei saja. Saya survei pertama, dapatnya 87 persen. Enggak percaya, saya survei lagi, dapatnya 87 persen lagi.

Setelah survei itu, saya melihat, benar-benar ada keinginan masyarakat. Jadi, yang datang ke saya itu benar. Dan ternyata memang saya dapat hampir 91 persen. Saya lihat ada harapan dan ekspektasi yang terlalu besar. Perhitungan saya 65-70 persen. Hitungan di atas kertas 65:35, atau 60:40, kira-kira.

Ada kekhwatiran tidak, ketika lepas jabatan, semua yang Anda bangun tetap terjaga?
Pertama ada blueprint, ada concept plan kota. Paling tidak, pemimpin baru nanti enggak usah pakai 100 persen, seenggaknya 70 persen. Jangan sampai, sudah SMP, kembali lagi ke TK. Saya punya kewajiban juga untuk menyiapkan dan memberi tahu apa yang harus dilakukan nantinya.

Biodata Joko Widodo

Nama : Joko Widodo
Tempat Tanggal Lahir: Surakarta, 21 Juni 1961
Agama : Islam
Pekerjaan : Pengusaha
Agama : Islam
Profil Facebook : jokowi
Akun twitter : jokowi_do2
Email: jokowi@indo.net.id
Alamat Kantor : Jl. Jend. Sudirman No. 2 Telp. 644644, 642020, Psw 400, Fax. 646303
Alamat Rumah Dinas : Rumah Dinas Loji Gandrung Jl. Slamet Riyadi No. 261 Telp. 712004
HP. 0817441111
Pendidikan:

  • SDN 111 Tirtoyoso Solo
  • SMPN 1 Solo
  • SMAN 6 Solo
  • Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta lulusan 1985

Karir:

  • Pendiri Koperasi Pengembangan Industri Kecil Solo (1990)
  • Ketua Bidang Pertambangan & Energi Kamar Dagang dan Industri Surakarta (1992-1996)
  • Ketua Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia Surakarta (2002-2007)

Penghargaan:

  • Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″
  • Menjadi walikota terbaik tahun 2009
  • Pak Joko Widodo jg meraih penghargaan Bung Hatta Award, atas kepemimpinan dan kinerja beliau selama membangun dan memimpin kota Solo.
  • Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Award

Selain itu, berkat kepemimpinan beliau (dan tentunya semua pihak yg membantu), kota Solo jg banyak meraih penghargaan, di antaranya

  • Kota Pro-Investasi dari Badan Penanaman Modal Daerah Jawa Tengah
  • Kota Layak Anak dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan
  • Wahana Nugraha dari Departemen Perhubungan
  • Sanitasi dan Penataan Permukiman Kumuh dari Departemen Pekerjaan Umum
  • Kota dengan Tata Ruang Terbaik ke-2 di Indonesia

biografi.rumus.web.id

Pratiwi Indah Sayekti, Tiga Gelar dalam Sebulan

Dalam sebulan ini, tiga gelar disabet siswi kelas XI IPA 7 SMAN 1 RSBI Wonogiri, Pratiwi Indah Sayekti.

Dua gelar diraih di ajang lomba di ITS Surabaya, dan sebuah gelar lagi diraih di ajang ‘Olimpiade Biologi Jawa-Bali’ di Universitas Atmajaya, Jogja.

Kepada SMAN 1 RSBI Wonogiri, Mulyadi, Kamis (16/2/2012), menjelaskan gelar ‘Best Problem Solving’ dan juara III Mapel Fisika diraih awal Februari dan Sabtu (11/2) siswinya kembali meraih gelar juara I ajang ‘Olimpiade Biologi Jawa-Bali’ di Jogja.

“Pratiwi memang anak cerdas. Sejak kelas X sudah berprestasi dan menjadi aset sekolah.”

Sementara itu, Pratiwi mengaku tidak ada yang istimewa dalam belajar. “Sepulang sekolah, hanya mengulang pelajaran. Jika ada pekerjaan rumah sesampai di kos langsung dikerjakan. Kami merutinkan belajar minimal satu jam sehari,” ujar putri asal Watuagung, Kecamatan Baturetno itu.

Penyuka Mapel Kimia dan bercita-cita menjadi dokter ini menyebutkan sejak kelas X sedikitnya sudah enam trofi dikumpulkan. Pada 2011 tiga gelar direbutnya seperti juara I Mapel Kimia di UNS, juara II Mapel Biologi di UNY, Jogjakarta dan juara I Mapel Kimia se-Wonogiri.

Solopos

Jumadiarto, Penemu Enzim Wonocaf

BAGI kebanyakan orang, istilah wonocaf (Wonogiri cassava flour) mungkin masih asing. Namun, bagi petani Wonogiri, nama itu menjadi magnet baru untuk semakin giat bercocok tanam singkong.

Sebab singkong hasil mereka yang tadinya hanya menjadi gaplek untuk bahan baku makanan tradisional tiwul, kini bisa menjadi tepung wonocaf yang kualitasnya setara dengan tepung gandung atau terigu.

Tentu saja dengan tepung wonocaf, petani gaplek Wonogiri bisa menjadi semakin sejahtera penghasilannya.

Semua itu bisa diwujudkan berkat jasa seorang petani bernama Jumadiarto, 58, warga Wonokarto, Wonogiri, sebagai penemu enzim istimewa tersebut. Dia membutuhkan waktu berbulan-bulan dan menghabiskan uang pribadi Rp400 juta untuk menciptakan enzim yang mampu menjadikan sari tepung gaplek menjadi tepung wonocaf.

“Sama-sama berbentuk tepung, tapi ini sangat beda dengan tepung gaplek yang selama ini hanya bisa dipergunakan untuk membuat tiwul, makanan khas Wonogiri. Dengan enzim yang saya namakan wonocaf ini, petani di Wonogiri bisa mengubah gaplek menjadi tepung yang tidak kalah dengan tepung terigu,” tukas Jumidiarto yang mengaku menemukan enzim khusus untuk tepung singkong pada 2009.

Tepung wonocaf ini sudah didemonstrasikan sebagai bahan baku untuk membuat roti dan kue jenis lainnya di kompleks Pemkab Wonogiri beberapa hari lalu. Hasilnya, tak kalah lezat jika disandingkan dengan roti yang dibuat dengan tepung terigu. Bahkan ada cita rasa yang khas dan luar biasa.

Berangkat dari rasa ketidakpuasannya terhadap keterbatasan sifat singkong yang kurang bersahabat jika akan diproses menjadi aneka makanan, Jumadiarto melakukan penelitian. Tidak jarang, upayanya itu dianggap aneh oleh rekan-rekannya sesama petani.

Namun, hal tersebut bukan dianggap sebagai halangan, sebaliknya memacu semangatnya untuk terus meneliti dan coba-coba hingga akhirnya ditemukan enzim yang diinginkan.

Tidak itu saja, beberapa proses ilmiah dan pengakuan dari luar juga harus dia lalui. Jumadiarto menjelaskan proses perjalanan temuannya itu. Sebelum dinilai layak menjadi bahan fermentasi untuk tepung gaplek, enzim wonocaf itu harus dipresentasikan di depan para pakar di BPPT Kementerian Riset dan Teknologi Jakarta.

“Para pakar di Litbang Kementerian Ristek sangat puas dengan presentasi saya terkait dengan enzim wonocaf, dan menyebut hasilnya sangat bagus dan akan memberikan rangsangan bagi petani untuk semakin giat menanam singkong,” jelasnya.

Bupati Wonogiri Danar Rahmanto pun meresponsnya dengan akan melakukan uji coba singkong varietas baru, setelah temuan enzim wonocaf yang mengejutkan itu. Namun, yang terpenting temuan Jumadiarto itu diharapkan bisa menyejahterakan petani singkong yang mengelola tanaman pangan di luar beras.

“Temuan ini menjadi masa depan yang menjanjikan bagi petani Wonogiri. Tentu akan saya tindak lanjuti serius dengan program yang lebih intensif lagi, dengan menyediakan bibit varietas baru yang mampu menghasilkan 30 kg tiap pohon. Dengan begitu, nanti produksi tepung wonocaf dari Wonogiri bisa mencukupi kebutuhan industri roti di Jawa Tengah, untuk kemudian merangkak sebagai produsen tepung wonocaf nasional,” tandas bupati.

Sebelum program tanam pohon singkong varietas baru dilaksanakan di Wonogiri, produksi singkong di sana selama ini mencapai 1,3 juta ton per tahun. Dengan enzim khusus itu, Wonogiri diperkirakan akan mampu menjadi produsen mumpuni tepung singkong wonocaf sebagai alternatif dari tepung terigu yang sudah mendunia terlebih dahulu.

Bapak berputra satu ini memang bertekad memajukan sektor pertanian pangan. Jumadiarto tidak memiliki bekal ilmu secuil pun di bidang tanaman pangan. Dia hanya mencoba membuat sebuah rekayasa, dengan bahan yang bersumber dari keanekaragaman hayati yang tersedia di alam.

Hasilnya? Memang ada hasil yang menjadi dambaan kaumtani, terutama di bidang budi daya tanaman pangan dan peternakan.

micom

Pratiwi Raih Perunggu di OLimpiade Sains Nasional

PRATIWI Indah Sayekti, siswi kelas XI IPA-7 SMA Negeri 1 Wonogiri, berhasil meraih medali perunggu dalam Olimpiade Sain Nasional (OSN) mata pelajaran (mapel) Fisika tahun 2012. Lomba OSN tersebut digelar di Institut Teknologi Surabaya (ITS).

Di event OSN itu, ungkap Kepala SMA Negeri 1 Wonogiri Drs Mulyadi MT, Pratiwi juga berhasil menyabet gelar ”The Best Analysis and Problem Solving Engineering Physics Challenge 2012”.

Sebelumnya, kata Mulyadi, Pratiwi juga sukses meraih juara I Olimpiade Kimia 2012 se Jateng-DI Yogyakarta, yang digelar oleh Himamia Fakultas MIPA UNS Sebelas Maret Surakarta.

Saat mengikuti Olimpiade Biologi di UNY Yogyakarta 2011, Pratiwi meraih medali perak. Dia juga meraih juara pertama lomba mapel Kimia tingkat Kabupaten Wonogiri tahun 2011.  Mulyadi mengatakan, nilai ulangan harian dan rapor Pratiwi selalu tinggi. Terutama untuk mapel Kimia, Fisika, Biologi, dan Matematika. ”Keberhasilan Pratiwi meraih medali di OSN, membawa nama harum bagi sekolah dan Kabupaten Wonogiri,” ujar Mulyadi.

Jadi Momok

Pratiwi adalah sulung dari dua bersaudara, pasangan suami-istri Drs Besar Haryono MM dan Retno Wulandari SPd MPd. ”Ayah saya menjabat Kepala SMP Negeri 2 Giritontro, dan ibu menjadi guru di SMP Negeri 2 Batuwarno,” tutur Pratiwi.

Remaja kelahiran Wonogiri 27 Agustus 1995 ini mengaku memang suka mapel Kimia, Biologi, Fisika, dan Matematika.

Meskipun sejumlah mapel tersebut sering menjadi momok pada mayoritas siswa, Pratiwi justru menyukai. Karena dilandasi rasa senang, setiap belajar pada sejumlah mapel tersebut, dia senantiasa memberikan perhatian lebih.

Ketika mendapatkan tugas pekerjaan rumah (PR), Pratiwi selalu memprioritaskan untuk dikerjakan paling awal. Sebelum kemudian disambung untuk belajar mapel lain. ”Kalau sampai ditunda-tunda, bisa lupa rumus dan cara mengerjakannya,” ujar Partiwi.

Menurut siswi berzodiak virgo ini, jam belajar di rumah tidak dijadwalkan secara baku. ”Saya belajar bila sedang minat, jam belajar saya tidak menentu,” tuturnya. Bisa jadi, ungkapnya, setelah shalat Asar sudah memulai belajar. Dia tidak tergoda menonton televisi, karena di tempat kosnya tidak ada fasilitas televisi. Melihat siaran televisi, itu baru dilakukan manakala pulang ke rumah orang tua di Desa Watu Agung, Kecamatan Baturetno (sekitar 50 km selatan Kota Wonogiri).

”Itu pun terbatas pada Sabtu malam dan Minggu saja,” ujar Pratiwi yang bercita-cita menjadi dokter.

suara merdeka

Sugiarto Sumas Selesaikan Program Doktoral IPB

Selasa siang pukul 14.00 wib bertempat di Ruang Anggrek kampus IPB Bogor berlangsung sidang terbuka program Doktor. Sugiarto Sumas, Direktur Partisipasi Masyarakat pada Ditjen P2KTrans Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menjadi salah satu peserta sidang terbuka pada siang itu. Beliau mencapai ujian terakhirnya dalam menempuh pendidikan S-3 di bidang ilmu Ekonomi Pertanian pada sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Dalam sidang terbuka itu Sugiarto Sumas mempersentasikan penelitian disertasi tentang “Dampak Kebijakan Fiskal Sektor Pendidikan dan Sektor Kesehatan Terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia. Sugiarto Sumas merasa indeks pembangunan manusia sangat penting bagi setiap negara dan daerah. Dapat diakui Sugiarto Sumas adalah sosok pria yang sangat peduli terhadap pembangunan manusia di Indonesia.

Dalam acara tersebut hadir pula Dirjen P2MKT Ir. Djamaludin Malik, MM. “Saya merasa bangga anak buah saya dapat menyelesaikan program Doktornya”, ujar Pak Djamaludin. Djamaludin menambahkan, ia merasa senang dalam penelitian disertasinya Sugiarto Sumas menyoroti masalah pendidikan dan kesehatan sangat berpengaruh terhadap indeks pembangunan nasional.

Selain itu, Komisaris Utama GGLink Radio Online yang juga Komisaris Utama TVLink, Leles Sudarmanto, juga hadir mengikuti sidang terbuka program doktor tersebut.

Sugiarto Sumas lahir pada tanggal 17 April 1958 di Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan, sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara, dari pasangan Sujoko Rais dan Masdiah. Beliau beristrikan Maisaroh dengan 2 orang anak yaitu Mulia Tawang Wisudha dan Herbowo.

Sugiarto berhasil menyelesaikan pendidikan pada jurusan mekanisasi Pertanian Fakultas Tehnologi Pertanian Universitas Gadjah Mada pada bulan Agustus tahun 1981. Kemudian ia melanjutkan pendidikan s-2 pada program studi Pembangunan Institut Teknologi Bandung dan meraih gelar Magister Tehnik pada bulan Oktober tahun 1998. Pada bulan Februari tahun 2007, ia menempuh pendidikan S-3 di bidang ilmu Ekonomi Pertanian pada sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Beliau juga mengikuti pendidikan dan pelatihan kedinasan dari jenjang terendah hingga jenjang tertinggi, mulai dari prajabatan yang ditempuh tahun 1983 hingga Sekolah Pendidikan Administrasi Tingkat I pada tahun 2011.\

Pengalaman kerja yang pernah dijalani olehnya adalah selaku pegawai negeri sipil sebagai Staf pada Kandep Departemen Transmigrasi Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 1983. Kemudian pada tahun yang sama mutasi bekerja sebagai staf pada kantor Wilayah Departemen Transmigrasi Provinsi Kalimantan Timur. Pada tahun 1987 ia mendapatkan kepercayaan dan mendapatkan tugas dalam penyiapan lahan permukiman pada Kanwil Departemen Transmigrasi Provinsi Kalimantan Timur sampai dengan tahun 1992. Pada bulan maret 1992, mutasi bekerja ke Departemen Transmigrasi Jakarta dan bertugas di biro perencanaan. Selama bertugas di Biro perencanaan Sugiarto mendapatkan tugas dan kepercayaan pimpinan dalam menangani laporan dan pengendalian program. Tempat tugas inilah yang menjadi titik awal bagi Sugiarto untuk banyak mengenal dan dikenal, mengenal berbagai jenis kegiatan dalam pekerjaan dan dikenal sebagai petugas yang harus berkorban waktu untuk berada di kantor melebihi jam kerja normal dan ia menjalankan tugas di biro perencanaan sampai dengan tahun 1999. Atas kepercayaan pimpinan departemen, ia diberikan kesempatan promosi sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan sehingga menangani pekerjaan yang bersifat meningkatkan kemampuan SUmber Daya Manusia du lingkungan instansi tempat ia bekerja sampai dengan tahun 2000.

Tahun 2001 terjadi perubahan cabinet dan nama instansi tempat Sugiarto bekerja menjadi Depnakertrans yang merupakan penggabungan dari 2 Departemen yaitu Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan sejak saat itu sampai sekarang beliau mendapatkan berbagai tugas yaitu sebagai Direktur Bina Kapasitas Sosial Ekonomi(2001-2003), Direktur Permukiman Kembali(2003-2005), Direktur penyediaan Tanah Transmigrasi (2005-2007), Direktur Promosi Investasi dan Kemitraan(2007-2010) dan mulai tanggal 7 Oktober 2010 sampai saat ini beliau menjabat sebagai Direktur Partisipasi Masyarakat pada P2KTrans Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Mimpi Djati, Membuat Petani Mandiri

Dunia pertanian mungkin tidak begitu menarik bagi kebanyakan anak muda. Harus berlepotan lumpur, panas dan hujan, cukup menjadi alasan bagi mereka untuk tidak menekuni bidang itu. Tapi tidak demikian halnya dengan pemuda berusia 28 tahun bernama Hardian Kusuma Djati ini.

Pada 2010 lalu, ia bahkan menjadi wakil Wonogiri dalam ajang lomba pemuda pelopor bidang pertanian tingkat nasional. Akrab disapa Djati, pemuda asal Desa Kebonagung, Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri ini sudah berjibaku dengan masalah-masalah pertanian sejak usia 14 tahun. Maklum ayahnya juga seorang pengembang di bidang pertanian di desanya, terutama pertanian organik melalui pembuatan pupuk. Dari ayahnya itu pula, Djati belajar mengenai teknik-teknik pertanian organik.

Pada 2009, beberapa tahun setelah ayahnya meninggal dunia, anak pertama dari tiga bersaudara ini mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran beras organik. Untuk menjamin ketersediaan beras organik itu, Djati mengajak kelompok tani di desanya untuk bertani secara organik.

“Para petani di desa saya, waktu ayah saya masih hidup pernah mengembangkan pertanian organik. Tapi setelah ayah saya meninggal, kebanyakan mereka kembali menggunakan pupuk kimia, sebab tidak ada yang membantu pemasaran beras organik mereka,” kata Djati, belum lama ini.

Pertanian organik itu dikembangkan Djati dengan berbasis pada kemandirian petani. Dalam hal ini, petani dan kelompok tani diajak membuat pupuk sendiri dari kotoran ternak, mengolah tanah sendiri menggunakan pupuk itu, lalu menanam padi dengan tak sedikitpun menggunakan pupuk kimia. Pada 2009 itu juga, salah satu kelompok tani di desanya yang melakukan uji coba berhasil.

Keberhasilan itu memicu para petani di desa lain ikut mengembangkan pertanian organik. Hingga saat ini, puluhan kelompok tani dari 12 desa di Sidoharjo telah menjadi kelompok binaan Djati. Beras hasil panen kelompok-kelompok tani itu dipasarkan melalui perusahaannya ke sejumlah daerah termasuk Surabaya dan Jabodetabek dengan harga di tingkat petani yang lebih tinggi dibandingkan harga beras non-organik.

Djati bahkan mengaku pernah ditantang untuk melakukan pemasaran ke Eropa Barat dengan harga Rp 38.000/kg. Namun karena produksinya masih belum mencukupi, Djati belum berani memenuhi tantangan itu.

“Saya punya mimpi membuat para petani di Wonogiri mandiri seperti yang ada di negara-negara maju, tidak tergantung pada pemerintah dalam penyediaan pupuk, dan ke depan, saya ingin sekali melihat Wonogiri menjadi tujuan agrowisata dan agro industri,” tandasnya.

Diakuinya untuk mewujudkan mimpi itu tidaklah mudah. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Ia bahkan mengakui mengajak petani beralih ke padi organik tidak sesulit yang dibayangkan. “Mengembangkan pertanian organik kuncinya ada pada pemasaran. Jika pemasaran produknya jelas, apalagi harga jualnya lebih tinggi, petani tidak akan segan-segan beralih ke padi organik,” ungkap pemuda yang mengaku pernah mengecap pendidikan di Akademi Teknik Warga jurusan Teknik Elektronik itu.

solopos

  • LOWONGAN
    ANEKA
    HERBAFARM
  • Pakari

    Alumni-UT

    Pakari

    CRYSTAL X FOR WOMEN

  • PASANG IKLAN DI SINI
LIVE BB TUNE IN NUX RADIO
Powered by WordPress | Designed by: diet | Thanks to lasik, online colleges and seo