banner 728x90

Wonogiri Surplus 134.434 Ton Gabah

gglink beras

gglink berasKepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura (PTPH) Wonogiri, Ir H Safuan menyebutkan, dari sisi hasil produksi pangan di Kabupaten Wonogiri,tidak ada masalah. Bahkan, lebih. Karena, angka panen padi 2014 terjadi kelebihan atau surplus 134.434 ton.

“Produksi 2014 lalu relatif bagus rata-rata bisa mencapai 5,6 ton gabah kering giling, sepanjang tahun 2014 serangan hama tidak menonjol atau banyak,” ujar Safuan.

Diakui, meski berlimpah padi namun harga beras di Wonogiri juga mahal seperti daerah lain. Masalahnya, ujar Safuan, pelaku pasar beras umumnya pedagang swasta sehingga pihaknya tidak bisa berbuat banyak mengurai “gonjang-ganjing” harga beras dewasa ini.

Terlebih lagi, banyak gabah asal Wonogiri umumnya dibeli pedagang luar daerah dan kembali masuk daerah Wonogiri sudah dalam bentuk beras.”Harga gabah di tingkat petani berkisar Rp 4.500 – 5.000 per kilogram, tapi kenyataan harga
beras sudah berkisar antara Rp 10.000-Rp 12.000 per kilogramnya,” katanya.

Menurut Safuan, gabah dari wilayah Wonogiri selatan seperti Baturetno dan Giriwoyo ‘lari’ ke Pacitan (Jatim), gabah asal sekitar Pracimantoro, Eromoko biasanya dibeli pedagang  asal Klaten, sedangkan hasil panenan padi petani

Produksi buah naga asal sentra Desa Semin Nguntoronadi Wonogiri, laris manis, bersamaan dengan tahun baru Imlek tahun ini. Kepala Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Wonogiri, Drs. S. Pranowo M.Si, Kamis (19/2/2015), mengakui sejak panen buah naga Januari lalu sedikitnya 3 ton sudah habis terjual.

“Total hasil panen tahun 2014/2015 ini ada sekitar 4.285 Kg,  penjualan menjelang Imlek saja mencapai 3.000 Kg,” pungkasnya.

Diakui, Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati Desa Semin Kecamatan Nguntoronadi merupakan satu-satunya sentra buah naga di kabupaten itu. Dari populasi 21.000 batang (atau 5.250 rumpun), sebesar 60 persennya sudah menghasilkan buah yang banyak diburu konsumen menjelang Imlek tersebut.

Menurut Pranowo, harga buah naga asal KWT Melati Wonogiri memang cenderung lebih mahal ketimbang buah naga dari daerah lain yang rata-rata hanya Rp 14-15 ribu per kilo. “Tapi buah naga asal Semin laku dijual Rp 18 ribu per kilo karena KWT binaan KKP Wonogiri itu jenis buah naga organik dan sudah mendapat sertifikat Prima 3,” terangnya sembari menambahkan sertifikat tersebut dikeluarkan Badan Otoritas Pangan (BOP) Jawa Tengah. (KRJ-DSh)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan