Sutino menatap lurus ke arah belakang rumahnya di Dusun Dungwot RT1 RW5, Desa Ngadipiro, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Mata lelaki paruh baya itu tertumbuk pada gugusan bukit yang berada kurang lebih 500 meter di belakangnya.
“Bukit Kendheng itu dulu sangat hijau, penuh pohon jati berukuran besar,” katanya saat pegiat lingkungan dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret (PPLH UNS) Solo berkunjung ke sana, Rabu (25/5).
Hamparan hutan lebat tak ubahnya permadani hijau raksasa diatas bukit itu kini hanya tinggal kenangan. Gejolak sosial yang terjadi diawal reformasi pada 1997-1998 telah membuat bukit yang merupakan bagian gugusan pegunungan seribu itu meranggas.
Warga sekitar yang terdesak kebutuhan hidup dan orang-orang luar yang sengaja datang mengambil kesempatan dalam kesempitan membabat habis pepohonan di bukit. Tidak hanya pohon besar, tetapi juga yang masih kecil. Semua dijadikan obyek ekonomi untuk mengejar keuntungan sesaat. Tanpa memperhatikan dampak jangka panjang.
Penyesalan atas kecerobohan itu baru dirasakan warga sekitar beberapa tahun kemudian. Ketika mata air yang selama ini menjadi sumber air bersih banyak yang mati. Begitu pula air sumur yang kering kerontang ketika musim kemarau tiba. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah mereka alami.
“Sebelum gundul, diatas sana terdapat 7 mata air. Tetapi setelah pohon-pohon dibabat habis, hanya tinggal satu yang masih bisa bertahan,” kisah Sutino.
Itu pun, lanjut dia, kondisinya berangsur kritis. Belum lagi ancaman bahaya tanah longsor yang bisa terjadi setiap saat. Mengingat kondisi tanah bukit yang cenderung gembur dengan sudut kemiringan 30 – 40 derajat.
Beruntung, kesadaran warga tergugah lebih dini. Sebelum semuanya terlambat, mereka bangkit untuk menghijaukan kembali Bukit Kendheng. Bak gayung bersambut, dalam waktu yang nyaris bersamaan PPLH UNS yang sedang mencari upaya mengatasi sedimentasi Waduk Gajah Mungkur Wonogiri datang ke desa yang berada di hulu Sungai Keduang itu.
Tanpa banyak basa-basi dan prosedur yang birokratis, terjalinlah sebuah kerja sama di antara keduanya. Gerakan penghijauan kembali Bukit Kendheng dimulai. Itu terjadi pada 2007 lalu, hanya sesaat sebelum bencana banjir besar melanda kawasan itu dan berbagai kota lain di hilir Bengawan Solo.
PPLH UNS memberikan sumbangsih pemikiran dan jalan untuk mendapatkan bibit tanaman. Sedang warga dengan prakarsa Kelompok Tani Ngesti Mulyo bahu-membahu merealisasikannya.
Karena konsepnya penghijauan sekaligus pemberdayaan ekonomi warga, jenis tanaman yang diutamakan adalah yang bisa memberikan keuntungan ekonomi. Seperti mangga, jati, kantil kuning dan putih, dan jeruk nipis. Dalam waktu dekat ini, warga juga akan mencoba untuk menanam pohon melinjo. Karena menurut hasil studi PPLH UNS, tanah dikawasan itu cocok.
Bibit tanaman tersebut merupakan bantuan dari berbagai sumber. Antara lain, Balai Penelitian Kehutanan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Bogor, dan dari PPLH UNS sendiri.
Sekarang, perlahan tapi pasti kawasan bukit yang dulunya gundul dan gersang sudah kembali menghijau. Walau secara ekonomi warga belum merasakan nikmatnya, namun dari sisi lingkungan sudah mulai terasa.
“Yang paling mencolok itu adalah ketersediaan air bersih. Mata air yang tadinya mati, sekarang sudah hidup kembali. Air sumur kami pun tidak lagi kering ketika musim kemarau tiba,? jelas Sutino yang kebetulan merupakan ketua Kelompok Tani Ngesti Mulyo itu dengan nada puas.
Manfaat yang mulai dirasakan itu membuat warga kian bersemangat. Hal itu mereka tunjukan melalui keseriusan memelihara tanaman yang ada dibukit itu. Jika dulu mereka acuh tak acuh ketika ada orang yang merambahnya, sekarang tidak lagi.
“Kalau ada yang berani menebang pohon disana akan dikenakan sanksi dan berhadapan dengan masyarakat,? tukas Kepala Dusun Dungwot, Hartanto yang mendampingi Sutino dalam kesempatan itu.
Konservasi lingkungan telah berjalan sukses, tapi belum demikian dengan aspek ekonomi. Menurut penuturan Sutino dan Hartanto, mereka masih harus menunggu beberapa tahun lagi untuk bisa merasakan hasil jerih payah itu. Persoalannya, sampai kapan mereka mampu bertahan ditengah kondisi tuntutan ekonomi yang semakin berat.
Apalagi, menurut Kepala Desa Ngadipiro, Agus Purwanto, selama ini kehidupan sebagian besar warga di sana memang lebih banyak ditopang oleh hutan diatas kawasan pemukiman itu. Disamping hasil ternak dan palawija yang ditanam di lahan tadah hujan.
Persoalan ini merupakan sebuah pekerjaan rumah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya. Karena tanpa jaminan ketercukupan ekonomi, sulit menjamin warga terus berpegang pada komitmennya untuk tidak kembali mengeksploitasi hutan.
“Itulah kekhawatiran terbesar kami saat ini. Kalau pemberdayaan ekonomi tidak segera dilakukan, warga akan kembali menggantungkan penghasilannya pada hutan, seperti yang terjadi pada 1997 – 1998 silam,” tegas Agus.
Kekhawatiran yang sama rupanya juga dirasakan oleh pihak PPLH UNS. Karena itu, mereka kini mulai berupaya mencarikan sumber penghasilan lain yang hasilnya bisa segera dinikmati warga. Salah satunya, menurut Wakil Kepala PPLH yang selama ini mendampingi warga, Purwanto, melalui konsep penganekaragaman usaha tani.
“Sekarang yang sedang kami rintis adalah peternakan ikan lele dan burung puyuh. Dalam waktu dekat kami akan mengajak warga untuk mengikuti pelatihan untuk itu,” jelasnya.
Langkah ini sangat penting, supaya masyarakat bisa memiliki penghasilan tetap yang bisa menjamin perputaran roda perekonomian mereka. Sembari menunggu hasil jerih payah merajut kembali hamparan permadani hijau di Bukit Kendheng itu.
MIcom